KPDPT

February 24, 2012 in Uncategorized

 

KOMPETENSI PUSTAKAWAN DALAM PENERAPAN TI











PENDAHULUAN
Sering kita mendengar pernyataan yang berbunyi bahwa perpustakaan merupakan simbol kemajuan peradaban dan budaya suatu bangsa. Orang mengatakan bahwa bangsa yang maju, yang akan menguasai dunia adalah bangsa yang menguasai informasi dan teknologi, terutama sekali teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga tidak heran kalau perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dewasa ini sudah memasuki berbagai aspek kehidupan manusia. Masuknya ICT  ini tidak dapat dihindari sehingga mempengaruhi dan mewarnai perkembangan perpustakaan di Indonesia. Oleh karena itu agar perpustakaan di Indonesia menjadi maju, berdaya, dan mampu berdiri sejajar dengan perpustakaan di negara-negara maju lain, tak ada cara lain kecuali perpustakaan harus mau memanfaatkan dan mendayagunakan teknologi informasi dengan cara yang tepat dan sesuai, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pengguna.
PEMBAHASAN
Kompetensi Pustakawan
Agar benar-benar dapat menjalankan peran dan fungsinya khususnya dalam memanfaatkan Teknologi Informasi (TI), ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan seperti yang dimaksudkan oleh Dewan Direktur  Special Libraries Association/SLA (dalam Sudarsono, 2006). Kompetensi tersebut yaitu:
1. Kompetensi Profesional, yang berhubungan dengan pengetahuan teknis dan kemampuan yang mendukung tugasnya dalam memberikan layanan perpustakaan dan informasi. Kompetensi tersebut meliputi kemampuan sebagai berikut:
a. Mempunyai pengetahuan atas isi sumber daya informasi, termasuk kemampuan mengevaluasinya secara kritis, apabila diperlukan penyaringan.
b. Memiliki pengetahuan subyek khusus yang cocok dan diperlukan oleh organisasi induk atau pengguna jasa.
c. Mengembangkan dan mengelola jasa informasi yang nyaman, mudah diakses, dan hemat biaya (costeffective) sejalan dengan arah strategis organisasi.
d. Menyediakan pedoman dan dukungan untuk  pengguna jasa.
e. Mengkaji kebutuhan informasi dan nilai tambah jasa informasi dan produk yang memenuhi kebutuhan.
f. Menggunakan teknologi informasi yang sesuai untuk mengadakan, mengorganisasikan, dan menyebarkan informasi.
g. Menggunakan pendekatan manajemen dan bisnis dalam mengkomunikasikan pentingnya jasa informasi.
h. Menghasilkan produk informasi khusus untuk digunakan di dalam maupun di luar organisasi, atau oleh pengguna perorangan.
i. Mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan melakukan riset yang berhubungan dengan permasalahan manajemen informasi.
j. Secara terus-menerus meningkatkan jasa informasi untuk menjawab tantangan dan perkembangan
2. Kompetensi Personal, yaitu ketrampilan menggambarkan satu kesatuan ketrampilan, perilaku dan nilai yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatan pengetahuan, dapat memperlihatkan nilai lebihnya serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya. Kompetensi ini meliputi kemampuan sebagai berikut:
a. Melakukan pelayanan prima.
b. Mencari tantangan dan melihat peluang baru baik di dalam maupun di luar  perpustakaan.
c. Berwawasan luas.
d. Mencari mitra kerja
e. Menciptakan lingkungan yang saling menghargai dan mempercayai.
f. Memiliki ketrampilan berkomunikasi.
g. Bekerja baik dengan sesama anggota tim.
h. Memberikan kepemimpinan.
i. Merencanakan, membuat prioritas dan fokus pada hal-hal yang kritis.
j. Setia dalam belajar sepanjang hidup dan karir pribadi.
k. Memiliki ketrampilan bisnis dan menciptakan peluang baru.
l. Mengakui nilai profesional kerjasama dan kesetiakawanan.
m. Luwes dan bersikap positif dalam masa yang berubah.
Peningkatan kemampuan pustakawan juga diharapkan terutama dalam hal pengoperasian komputer, perancangan program aplikasi, penguasaan bahasa Inggris dan/atau bahasa asing lainnya.  Karena dalam pengoperasian komputer dan aplikasi-aplikasinya tidak akan pernah lepas dari Bahasa Inggris. Upaya peningkatan kemampuan tersebut dapat dilakukan melalui sarana lembaga pendidikan pelatihan dan organisasi profesi pustakawan (seperti IPI).
Seorang pustakawan dalam memanfaatkan teknologi informasi perlu mengetahui hal-hal sebagai berikut :
1. Paham maksud ruang lingkup dan unsure otomasi perpustakaan/TI perpustakaan.
2. Paham dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksankan analisis system yang menyeluruh sebelum merencanakan desain system.
3. Paham dan bisa mengapresiasi manfaat analisis system dan desain evaluasi dan maintenance,
4. Paham dan bisa mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam seluruh proses kerja.
Pengaruh Internet
Secara umum pengaruh internet terhadap kinerja perpustakaan dan pustakawan adalah positif. Namun ditemukan sejumlah fakkta tentang kurangnya pendayagunaan internet di perpustakaan karena terbatasnya pengetahuan pustakawan tentang internet. Kemampuan mendayagunakan internet memerlukan kemauan dan inisiatif pustakawan sendiri.
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Finlay (1996) tentang internet oleh pustakawan menghipotesakan sebagai berikut :
a. Pustakawan dengan pengetahuan lebih baik akan bersifat positif terhadap penggunaan internet.
b. Pustakawan yang pengetahuan lebih baik akan lebih sering menggunakan internet dibanding pustakawan yang kurang tahu.
c. Pustakawan yang inovatif akan sering menggunakan internet.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan factor yang mempengaruhi pustakawan dalam menggunakan dan memberdayakan internet. Disamping itu, dorongan dari atasan dan kesempatam belajar untuk menggunakannya merupakan dua hal yang amat penting. Kemampuan untuk mencoba berlatih dan menggunakan internet merupakan sikap yang mencerminkan daya inovatif pustakawan.
Kemauan pustakawan dalam menguasai teknologi informasi telah terbukti dapat memutar balikkan tatanan informasi. Pustakawan hendaknya tidak buta komputer (gagap teknologi). Maka perlu ada pengenalan teknologi informasi secara masal kepada pustakawan. Disamping itu bagi pustakawan yang menguasai teknologi informasi agar dengan senang hati membagi ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada sejawatnya. Kemampuan dalam disiplin ilmu khusus merupakan modal tambahan, disamping berkolaborasi dengan profesi lain.
Perubahan peran dan munculnya tantangan sebagai dampak keberadaan Internet harus benar-benar diperhatikan oleh pustakawan. Sekurangnya ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Internet memungkinkan perpustakaan menyediakan lebih beragam informasi. Oleh sebab itu pemakai perlu dibimbing untuk tidak saja mencari informasi dalam lingkungannya, tetapi sekaligus mengevalulasi secara kritis informasi yang diakses dalam internet.
b. Pustakawan perlu mengorganisasikan sumber daya informasi dalam internet untuk dapat menyusun sistem temu kembali informasi (retrieval system) secara lebih efektif. Kalau dulu salah satu pekerjaan pustakawan adalah mengkatalog buku agar mudah ditemukan kembali, sekarang perlu pula mengkatalog situs.
c. Pustakawan harus merangkul perkembangan-perkembangan yang nampaknya bertentangan dengan konsep perpustakaan. Mereka harus lebih terbuka terhadap perkembangan-perkembangan tersebut. (Sudarsono, 2006).
Mencermati fakta dan kenyataan di atas, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dengan adanya penggunaan akses internet akan dapat memberikan manfaat yang besar kepada khalayak ramai khususnya bagi pustakawan. Berikut ini dicantumkan beberapa manfaat dari penggunaan akses internet (Koswara, 1998), antara lain:
· Mendapatkan informasi untuk kepentingan pribadi, seperti tentang kesehatan, rekreasi, agama, sosial, hobi, dan sebagainya.
· Mendapatkan informasi untuk kehidupan profesional/pekerjaan, seperti sains dan teknologi, perdagangan, saham, komoditi, berita bisnis, forum, dan lain-lain.
· Sebagai sarana untuk kerjasama antar pribadi atau kelompok tanpa mengenal batas jarak dan waktu, batas negara, ras, status sosial, dan ideologi.
· Sebagai sarana bisnis, termasuk iklan dan publikasi online, alternatif cetak jarak jauh, email, buletin board, newsletter.
· Sebagai media komunikasi, termasuk untuk melengkapi perkembangan teknologi, menjembatani lembaga pemerintah, universitas, sekolah, laboratorium, dan penelitian.
· Memperluas wawasan dan sebagai sarana diskusi global antara individu baik yang amatir maupun profesional.
Kesiapan dan Strategi Pustakawan dalam Memanfaatkan Teknologi Informasi
Dari berbagai survei yang pernah dilakukan terhadap pustakawan, pada umumnya pustakawan Indonesia belum sepenuhnya siap menerima kehadiran teknologi informasi. Disamping itu belum semua perpustakaan besar di Indonesia mempunyai akses internet. Bagi yang sudah memiliki akses, belum banyak yang memanfaatkan internet sebagai sarana penyediaan jasa informasi melalui jaringan gobal tersebut, masih terbatas sebagai pengguna saja dan itupun dalam jumlah yang sedikit.
Sehingga dapat dimaklumi apabila masih sebagian kecil pustakawan Indonesia yang menguasai teknologi jaringan global. Dalam hal ini perlu ada peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh masing-masing unit dokumentasi, informasi, dan perpustakaan.
Agar pemanfaatan teknologi informasi dapat berjalan optimal, pustakawan hendaknya bersinergi dengan profesi lain. Selain bekerja sama dengan pakar dalam bidang teknologi informasi, pustakawan juga harus berkolaborasi dengan peneliti, guru, arsiparis, wartawan, dokumentalis, pengarang, penulis, penerbit, dan lain-lain. Pustakawan hendaknya terbuka dengan menerima dan mengajak keahlian lain secara bersama-sama mengelola informasi yang diperlukan masyarakat.
Kemampuan pengelolaan dan pemanfaatan informasi bagi pustakawan harus senantiasa ditingkatkan terus-menerus sehingga masyarakat mampu berperan dan mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari jaringan informasi global (Internet).
1. Beberapa saran berikut dapat dijadikan rujukan bagi pustakawan, antara lain:
Pustakawan hendaknya aktif dalam perumusan kebijakan nasional maupun peraturan terkait, untuk menjamin agar perpustakaan menerima cukup dana untuk berperan dalam infrastruktur informasi nasional.
2. Pustakawan perlu memahami dan menguasi sistem jaringan agar dapat menyusun program dan kemudahan yang memungkinkan para pengguna sadar akan manfaat sistem jaringan informasi global (internet), karena koneksi pada internet bukanlah jaminan bahwa perpustakaan dapat melayani semua informasi yang dibutuhkan pengguna.
3. Layanan dan sumber daya internet perlu diciptakan dan diorganisasikan oleh para pustakawan. Katalog dari jasa dan sumber daya informasi yang tersedia di internet merupakan alat yang sangat membantu secara efektif dan efisien.
4. Pengelola perpustakaan perlu mengalokasikan dana pendidikan dan pelatihan internet bagi tenaga perpustakaan.
5. Pustakawan perlu memainkan peran yang aktif dalam hal hak atas kekayaan intelektual (intellectlual property right) maupun hak cipta dalam lingkungan atau suasana elektronik.
6. Pustakawan perlu memiliki pengaruh pada evolusi layanan Internet dan siap untuk membagi ide dan gagasan kepada perencanaan proyek maupun pengelola administasi. (ERIC Digest, 1997).
Jati diri pustakawan sendiri adalah merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan pemanfaatan teknologi informasi dalam perpustakaan, yang mencakup beberapa aspek antara lain: sikap pustakawan, kemampuan pustakawan, materi pendidikan kepustakawanan yang diikuti, dan keaktifan sebagai anggota organisasi profesi. Semua aspek tersebut ikut menentukan kesiapan pustakawan dalam memanfaatkan Teknologi Informasi.
Oleh sebab itu agar pustakawan tidak “gagap”, siap terjun di tengah masyarakat informasi, ada tiga strategi yang dapat dilakukan oleh pustakawan: Pertama, peningkatan moral dan etika pustakawan; kedua, penguasaan teknologi informasi serta disiplin keilmuwan khusus; ketiga, berkolaborasi dengan profesi lain. (Sudarsono, 2006).
Sedangkan bagi perpustakaan sendiri harus melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mempersiapkan diri menerima dan memanfaatkan teknologi informasi di perpustakaan.
Untuk itu para pustakawan harus membekali diri dengan beraneka ragam ketrampilan, keahlian, skill, agar dapat memberikan akses informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan meningkatkan kwalitas layanan setinggi-tingginya kepada pengguna. Pustakawan seperti itulah yang dikatakan memiliki profil pustakawan masa depan (Mustafa, 1998), dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Berorientasi kepada kebutuhan pengguna.
b. Mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik.
c. Mempunyai kempuan teknis perpustakaan yang tinggi.
d. Mempunyai kemampuan dalam pengembangan secara teknis dan prosedur kerja.
e. Mempunyai kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
f. Mempunyai kemampuan melaksanakan penelitian di bidang perpustakaan.
KESIMPULAN
Teknologi informasi yang digunakan secara tepat dan sesuai akan menjadikan proses pengolahan informasi, dokumentasi, dan pengelolaan perpustakaan berjalan cepat, tepat,akurat, efektif, efisien, ekonomis, dan bervariasi. Dengan demikian akan turut mendukung terwujudnya perpustakaan dan pustakawan yang maju dan berdaya sehingga mampu memberikan kwalitas layanan yang setinggi-tingginya kepada pengguna. Begitu juga sebaliknya perpustakaan dan pustakawan yang berdaya akan mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan agar pemanfaatan teknologi informasi dalam perpustakaan berjalan sukses dan lancar diantaranya sumberdaya pustakawan (humanresource), kebijakan pemilik modal/pemegang kepentingan (stake holder policy), ketersediaan koleksi, sarana, dan fasilitas (avaibility of collection/information resourse and  facility, dan kebutuhan pengguna (user’s need).
Namun sayangnya sumberdaya pustakawan Indonesia belum sepenuhnya siap menggunakan kemajuan teknologi  informasi, disamping itu infrastuktur dan fasilitas sebagian besar perpustakaan juga masih minim, akibatnya teknologi informasi belum termanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu pustakawan harus mempersiapkan diri dengan berbagai macam ketrampilan, keahlian, kompetensi, dan keprofesionalan serta memiliki strategi yang tepat dalam menghadapi masyarakat informasi. Dengan demikian pengguna (masyarakat) akan mendapatkan layanan yang berkwalitas tinggi dan akses yang sebesar-besarnya terhadap informasi.